Jauh sebelum berita Palestina VS Israel berhembus diberbagai mass media sbelangan ini. Telah banyak tragedi yang banyak memakan nyawa manusia dengan mudahnya.
Ingatkah kita peristiwa serangan pesawat ke World Trade Center dan ke Pentagon.
Gedung pencakar langit yang roboh, menimbun 6.000 lebih orang tak berdosa yang bekerja di Gedung Pusat Perdagangan Dunia di New York serta di bangunan Pentagon di Washington DC. Orang berkomentar, mereka mati sebelum waktunya.
Sekitar seminggu kemudian, laporan pandangan mata bervariasi. Ketika, sasaran ditujukan ke Afganistan, tempat Osama bin Laden-yang dituduh Amerika sebagai tersangka utama-diduga bermarkas, negara berpenduduk 26 juta itu ditayangkan pula sosoknya.
Begitu dahsyatnya serangan demi serangan, bom yg berjatuhan menimpa jiwa jiwa yang tak berdosa. Siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab???
TAYANGAN pascaserangan teror ke New York dan Washington lebih lengkap. Amatlah mengesankan dan memprihatinkan, ribuan penduduk Afganistan yang lalu lalang mencari perlindungan dan pengungsian. Amatlah miskin keadaannya. Puing-puing di seluruh negeri.
Sekarang giliran umat islam di palestina menanggung dampak dari agresi yang dilancarkan Israel. Para istri menjadi janda dengan sekejap. Anak anak menjadi yatim bahkan yatim piatu. Rumah sebagai tempat bernaung tak lagi dapat digunakan. Ketakutan terus menghantui hati karena aksi dari Israel dan antek anteknya.
Orang orang muslim yang jumlahnya mayoritas harusnya bersatu padu berjihad membantu saudaranya diPalestina. Logistik, obat maupun sukarelawan yang sangat dubutuhkan rakyat Palestina
Sekarang bangsa Indonesia boleh jadi ,menjadi sukarelawan di Palestin. Tapi bukan tidak mungkin besok umat muslim Indonesia adalah mujahid mujahid di negaranya sendiri.
Serangan teror dan aksi teror harus dicegah dan dihukum. Tetapi kondisi kemiskinan, penderitaan, marjinalisasi, dan ketidakadilan, tidak pula dapat dibiarkan.
Kita harapkan, bahkan marilah kita usahakan bersama, agar aksi-reaksi itu tidak menuju eskalasi konflik, permusuhan, serta guncangnya keamanan. Aksi-reaksi itu, agar justru akhirnya menemukan pendekatan dan cara-cara yang adil, manusiawi, serta efektif dalam menangani tantangan bersama yakni aksi teror serta lahan subur yang menjadi persemaiannya, yakni kondisi miskin, tertindas, marjinal, menderita.
Ingatkah kita peristiwa serangan pesawat ke World Trade Center dan ke Pentagon.
Gedung pencakar langit yang roboh, menimbun 6.000 lebih orang tak berdosa yang bekerja di Gedung Pusat Perdagangan Dunia di New York serta di bangunan Pentagon di Washington DC. Orang berkomentar, mereka mati sebelum waktunya.
Sekitar seminggu kemudian, laporan pandangan mata bervariasi. Ketika, sasaran ditujukan ke Afganistan, tempat Osama bin Laden-yang dituduh Amerika sebagai tersangka utama-diduga bermarkas, negara berpenduduk 26 juta itu ditayangkan pula sosoknya.
Begitu dahsyatnya serangan demi serangan, bom yg berjatuhan menimpa jiwa jiwa yang tak berdosa. Siapa sebenarnya yang paling bertanggung jawab???
TAYANGAN pascaserangan teror ke New York dan Washington lebih lengkap. Amatlah mengesankan dan memprihatinkan, ribuan penduduk Afganistan yang lalu lalang mencari perlindungan dan pengungsian. Amatlah miskin keadaannya. Puing-puing di seluruh negeri.
Sekarang giliran umat islam di palestina menanggung dampak dari agresi yang dilancarkan Israel. Para istri menjadi janda dengan sekejap. Anak anak menjadi yatim bahkan yatim piatu. Rumah sebagai tempat bernaung tak lagi dapat digunakan. Ketakutan terus menghantui hati karena aksi dari Israel dan antek anteknya.
Orang orang muslim yang jumlahnya mayoritas harusnya bersatu padu berjihad membantu saudaranya diPalestina. Logistik, obat maupun sukarelawan yang sangat dubutuhkan rakyat Palestina
Sekarang bangsa Indonesia boleh jadi ,menjadi sukarelawan di Palestin. Tapi bukan tidak mungkin besok umat muslim Indonesia adalah mujahid mujahid di negaranya sendiri.
Serangan teror dan aksi teror harus dicegah dan dihukum. Tetapi kondisi kemiskinan, penderitaan, marjinalisasi, dan ketidakadilan, tidak pula dapat dibiarkan.
Kita harapkan, bahkan marilah kita usahakan bersama, agar aksi-reaksi itu tidak menuju eskalasi konflik, permusuhan, serta guncangnya keamanan. Aksi-reaksi itu, agar justru akhirnya menemukan pendekatan dan cara-cara yang adil, manusiawi, serta efektif dalam menangani tantangan bersama yakni aksi teror serta lahan subur yang menjadi persemaiannya, yakni kondisi miskin, tertindas, marjinal, menderita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar